Pembelajaran IPAS di madrasah ibtidaiyah menuntut pengalaman konkret agar konsep yang abstrak, seperti listrik, dapat dipahami peserta didik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan metode demonstrasi pada mata pelajaran IPAS di kelas V MI Ma’arif NU 01 Samarinda, yang meliputi tahap persiapan, pembukaan, kegiatan inti, dan penutup, serta respons peserta didik selama pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan pada Agustus 2024 melalui observasi pembelajaran, wawancara dengan guru kelas Vc dan Vd serta peserta didik kelas V, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi berlangsung dalam empat tahap. Pada tahap persiapan, guru menyelaraskan langkah demonstrasi dengan RPP dan mencoba peragaan terlebih dahulu. Pada tahap pembukaan, guru membangun kesiapan belajar dengan cara yang berbeda di setiap kelas, yaitu kalimat penyemangat dan ice breaking. Pada kegiatan inti, guru memperagakan materi listrik, kemudian peserta didik berlatih secara berkelompok dan mempresentasikan hasilnya. Pada tahap penutup, guru dan peserta didik merangkum materi, melakukan tanya jawab, dan mengerjakan LKPD atau tugas rumah. Peserta didik tampak antusias, banyak bertanya, dan aktif menggunakan alat peraga. Respons tersebut juga dipengaruhi oleh kegiatan pembukaan dan kerja kelompok, sehingga bukti yang paling terkait langsung dengan demonstrasi adalah meningkatnya pertanyaan dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap proses yang diperagakan. Temuan ini menunjukkan bahwa demonstrasi guru perlu dipadukan dengan praktik peserta didik yang terstruktur dan prosedur keamanan yang jelas.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Hadi et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: