This is the authors' abstract. We don't add key points for this paper.
Peningkatan kadar kolesterol sering tidak disadari karena tidak menimbulkan gejala, sedangkan kebiasaan mengonsumsi gorengan, makanan bersantan, jeroan, daging berlemak, makanan cepat saji, dan makanan olahan masih ditemukan pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan perilaku konsumsi makanan berlemak dengan kadar kolesterol pada masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pahandut Palangka Raya. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi berjumlah 78 orang dan sampel 44 responden dipilih menggunakan purposive sampling. Perilaku konsumsi diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire, sedangkan kolesterol total diperiksa melalui darah kapiler dengan alat tes digital. Analisis menggunakan uji Spearman Rank pada tingkat kemaknaan 0,05. Sebanyak 22 responden (50,0%) memiliki perilaku konsumsi kategori kadang-kadang, 15 (34,1%) jarang, dan 7 (15,9%) sering. Kadar kolesterol sedang ditemukan pada 22 responden (50,0%), normal pada 16 (36,4%), dan tinggi pada 6 (13,6%). Uji Spearman Rank memperoleh p<0,001 dan rₛ=0,706. Disimpulkan terdapat hubungan positif, kuat, dan signifikan antara perilaku konsumsi makanan berlemak dengan kadar kolesterol. Semakin sering makanan berlemak dikonsumsi, kadar kolesterol cenderung semakin tinggi. Edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pemeriksaan kolesterol berkala perlu ditingkatkan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Wulandari et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: