Akses anak terhadap perangkat digital membuka kesempatan belajar sekaligus meningkatkan kemungkinan mereka menjumpai konten yang tidak sesuai dengan usia. Artikel ini menganalisis bagaimana prinsip pengasuhan Qur’ani dapat menjadi landasan pendampingan orang tua terhadap paparan konten digital pada anak usia dini, terutama usia nol sampai enam tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis tematik-integratif terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, sumber Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia, sepuluh artikel jurnal nasional, satu artikel jurnal internasional, dan empat buku akademik terbitan 2021–2026. Analisis membedakan paparan konten, durasi layar, penggunaan bermasalah, dan kecanduan gawai. Sintesis menunjukkan bahwa pengasuhan Qur’ani menekankan tanggung jawab, keteladanan, kasih sayang, pembiasaan akhlak, serta komunikasi yang penuh perhatian. Sementara itu, penelitian pengasuhan digital menyoroti pemilihan konten, penggunaan bersama, penerapan aturan yang konsisten, dan perlindungan sesuai tahap perkembangan. Integrasi kedua perspektif menghasilkan usulan kerangka konseptual yang menghubungkan nilai Qur’ani dan pemahaman orang tua dengan komunikasi, pendampingan aktif, kurasi konten, serta pengalaman digital yang lebih sesuai bagi anak. Ayat Al-Qur’an dipahami sebagai sumber prinsip pendidikan dan etika, bukan sebagai pernyataan literal mengenai teknologi modern. Kontribusi kajian terletak pada penegasan pentingnya kualitas konten, bukan hanya lamanya penggunaan perangkat, dalam pengasuhan keluarga Muslim. Kerangka tersebut masih bersifat konseptual dan belum diuji secara empiris sehingga efektivitasnya membutuhkan penelitian lanjutan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Marsela et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: