Abstrak Diskursus Islamic parenting saat ini sering kali mengalami dikotomi antara pendekatan normatif-teologis yang kaku dan pendekatan psikologis sekuler yang mengabaikan dimensi spiritual. Artikel ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka teoretis Islamic parenting holistik melalui integrasi nilai-nilai tauhid dan psikologi perkembangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis konseptual. Data primer bersumber dari Al-Qur'an, Hadis, dan karya klasik pendidikan Islam, sedangkan data sekunder dari literatur psikologi perkembangan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tauhid (Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma' wa Sifat) memiliki korespondensi epistemologis dengan tahapan perkembangan kognitif, psikososial, dan moral anak. Integrasi ini melahirkan "Kerangka Pengasuhan Tauhidik-Developmental (KPTD)" yang membagi pengasuhan ke dalam empat fase: (1) Fase Bayi dan Balita (0-2 tahun) yang berfokus pada pembangunan rasa aman melalui Rububiyah; (2) Fase Kanak-kanak Awal (3-5 tahun) yang menekankan keteladanan dan pengenalan Allah melalui kasih sayang (Asma' wa Sifat); (3) Fase Kanak-kanak Akhir (6-11 tahun) yang mengintegrasikan logika konkret dengan pembiasaan ibadah; dan (4) Fase Remaja (12-18 tahun) yang memfasilitasi pemikiran abstrak dan internalisasi tauhid melalui dialog. Kerangka ini membuktikan bahwa psikologi perkembangan dan tauhid tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi untuk membentuk manusia yang utuh (insan kamil).
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Sunoto Sunoto (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: