Era disrupsi digital dan globalisasi kontemporer memicu krisis moral serta patologi psikososial pada fase perkembangan remaja. Fenomena ini diperparah oleh disonansi nilai di lapangan, sehingga penelitian kualitatif studi pustaka (library research) ini bertujuan menganalisis dekonstruksi teoretis dan formulasi strategi aktualisasi Tripusat Pendidikan dalam membentuk karakter Islami remaja. Data sekunder dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan komparatif-sintetis melalui pendekatan epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan krisis moral remaja membutuhkan integrasi ekologis-sistemik Tripusat Pendidikan yang holistik, interdependen, dan transendental. Pola aktualisasi ini memosisikan keluarga sebagai basis primer penanam tauhid melalui prophetic parenting, sekolah sebagai penguat nilai lewat religious school culturetanpa dikotomi sains-agama, serta masyarakat sebagai laboratorium sosial penegak amar ma'ruf nahi munkar dan literasi digital berakhlak. Sinergitas total ketiga pilar pendidikan yang berorientasi pada kesadaran muraqabahdan keselamatan dunia-akhirat menjadi kunci utama transformasi gejolak masa muda menjadi kesalehan sosial. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya penghapusan ego sektoral antar-institusi pendidikan demi merumuskan kebijakan yang mengikat antara orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk mencetak generasi insan kamil.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Lukman et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: