Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dalam lingkungan belajar anak menimbulkan pertanyaan penting bagi pendidikan Islam anak usia dini: bagaimana teknologi dapat membantu pengembangan fitrah tanpa menggantikan peran hubungan manusia, pembiasaan akhlak, dan pengalaman belajar langsung? Artikel ini bertujuan menelaah dasar Al-Qur'an dan hadis tentang fitrah, mengidentifikasi peluang serta tantangan AI bagi perkembangan anak, dan merumuskan prinsip pendampingan yang sesuai usia. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan naratif dengan pendekatan kualitatif, memadukan pembacaan tematik ayat dan hadis yang relevan dengan telaah kritis terhadap artikel ilmiah, buku akademik, serta pedoman internasional yang terutama terbit pada 2021–2026. Analisis membedakan landasan normatif keagamaan, temuan empiris penelitian terdahulu, dan rekomendasi pedagogis. Sintesis menunjukkan tiga pokok. Pertama, fitrah memberikan orientasi etis bagi pendidikan keimanan, akhlak, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab, tanpa menyamaratakan keunikan perkembangan setiap anak. Kedua, media berbantuan AI berpeluang mendukung diferensiasi pembelajaran, umpan balik, pengenalan bahasa, dan persiapan kegiatan guru, tetapi manfaatnya dipengaruhi mutu konten, pendampingan orang dewasa, akses, serta perlindungan data. Ketiga, orang tua dan guru tetap memegang peran utama dalam keteladanan, penguatan relasi, ibadah, bermain, dan pengalaman konkret. Artikel ini menawarkan kerangka pendampingan AI berorientasi fitrah yang menempatkan kemaslahatan anak di atas efisiensi otomatis. Kerangka tersebut merupakan hasil sintesis konseptual dan belum diuji melalui intervensi lapangan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Rofiqoh et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: