The limitations of primary-level English vocabulary instruction trapped in mechanical memorization and student worksheets trigger the need for an environment-based pedagogical reorientation. This study explores the articulation of a three-stage Qur’anic Deep Learning model that integrates the epistemology of Surah Al-Baqarah/2: 31–33 with the potential of the school ecosystem to transform lexical symbols into meaningful understanding. Employing a qualitative approach with a critical case study design at SDIT Al-Manar, Bekasi City, data were gathered through participatory observation and in-depth interviews with teachers and students. Research findings reveal that this model operates through three mutually reinforcing syntaxes: the ta’lim phase (mindful), which optimizes sensory awareness when exploring physical objects in the environment; the articulation phase (meaningful), which builds semantic networks and conceptual classification through reflective dialogue; and the actualization or ta’bir phase (joyful), which offers expressive freedom in communicating vocabulary contextually. This study concludes that utilizing physical school spaces combined with Qur’anic pedagogical principles effectively reduces language anxiety while enhancing holistic lexical mastery. Practical implications suggest a necessary shift from conventional written evaluations toward portfolio-based authentic assessments to document children's ongoing language development. ABSTRAK Keterbatasan pengajaran kosakata bahasa Inggris tingkat dasar yang terjebak pada hafalan mekanis dan lembar kerja siswa memicu perlunya reorientasi pedagogis berbasis lingkungan. Penelitian ini mengeksplorasi artikulasi model Qur’anic Deep Learning tiga tahap yang mengintegrasikan epistemologi Surah Al-Baqarah/2: 31–33 dengan potensi ekosistem sekolah guna mentransformasikan simbol leksikal menjadi pemahaman bermakna. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kritis di SDIT Al-Manar Kota Bekasi, data dihimpun menggunakan observasi partisipatif dan wawancara mendalam bersama guru serta siswa. Temuan penelitian mengungkap bahwa model ini beroperasi melalui tiga sintaks yang saling menguatkan: fase ta’lim (mindful) yang mengoptimalkan kesadaran sensorik saat mengeksplorasi objek fisik lingkungan; fase artikulasi (meaningful) yang membangun jejaring semantik dan klasifikasi konseptual lewat dialog reflektif; serta fase aktualisasi atau ta’bir (joyful) yang memberikan kebebasan ekspresif dalam mengomunikasikan kosakata secara kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan ruang fisik sekolah yang dipadukan dengan prinsip pedagogi Qur’ani mampu mereduksi kecemasan berbahasa sekaligus meningkatkan penguasaan leksikal secara utuh. Implikasi praktisnya mengisyaratkan perlunya pergeseran dari evaluasi tertulis konvensional menuju asesmen autentik berbasis portofolio guna mendokumentasikan perkembangan berbahasa anak secara berkelanjutan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Dariyanto et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: