Character education in early childhood is often delivered through verbal advice that young children find hard to retain, while their growing exposure to digital screens reduces opportunities to listen to stories told directly by an adult. This community service program aimed to apply pure storytelling, an oral narration that relies on the narrator's voice and body rather than a picture book, to strengthen environmental care and responsibility among kindergarten children. The program was carried out from 30 September to 3 October 2026 at Tunas Harapan II Waru Kindergarten, Penajam Paser Utara Regency, involving about forty-five children and five teachers. The stages consisted of planning, coordination with the school, script and performance preparation, storytelling sessions, evaluation, and dissemination. Data were gathered through participatory observation, oral question-and-answer sessions, short interviews with teachers, and documentation, then analysed descriptively. The story “Misi Pahlawan Bumi” introduced green, yellow, and red bins for organic, inorganic, and hazardous waste. The children followed the story enthusiastically, imitated the voices and movements of the characters, and most of them could name examples of waste for each bin colour. Teachers also gained a practical, low-cost model of storytelling that can be repeated in daily classroom activities. Keywords: character education; early childhood; environmental care; pure storytelling; vocal and gesture Abstrak: Pendidikan karakter bagi anak usia dini masih sering disampaikan melalui nasihat lisan yang sulit diingat anak, sementara meningkatnya paparan layar digital mengurangi kesempatan anak untuk menyimak cerita yang dibawakan langsung oleh orang dewasa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menerapkan dongeng murni, yaitu penceritaan lisan yang mengandalkan suara dan tubuh pencerita tanpa bergantung pada buku cerita, untuk menguatkan karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab anak taman kanak-kanak. Kegiatan berlangsung pada 30 September hingga 3 Oktober 2026 di Taman Kanak-Kanak Tunas Harapan II Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, dengan melibatkan sekitar empat puluh lima anak dan lima guru. Tahapan kegiatan meliputi perencanaan, koordinasi dengan sekolah, persiapan naskah dan pementasan, pelaksanaan dongeng, evaluasi, serta diseminasi. Data dihimpun melalui observasi partisipatif, tanya jawab lisan, wawancara singkat dengan guru, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Dongeng “Misi Pahlawan Bumi” memperkenalkan tempat sampah hijau, kuning, dan merah untuk sampah organik, anorganik, dan berbahaya. Anak-anak menyimak dengan antusias, menirukan suara serta gerakan tokoh, dan sebagian besar mampu menyebutkan contoh sampah untuk setiap warna tempat sampah. Guru juga memperoleh model bercerita yang praktis dan murah untuk diterapkan kembali dalam pembelajaran sehari-hari. Kata kunci: anak usia dini; dongeng murni; olah vokal dan gestur; pendidikan karakter; peduli lingkungan
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Triyoga et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: