Why the study?
In Lok Gabang Village, Banjar Regency, 11,16% of elderly residents have hypertension, while local community health cadres had never received training in early detection and blood pressure measurement techniques. This community service program aimed to improve cadre capacity and resident knowledge regarding hypertension and its complication prevention.
Does a structured hypertension education and digital blood pressure measurement training program improve knowledge and procedural skills among community health cadres in Lok Gabang Village?
Does a structured hypertension education and digital blood pressure measurement training program improve knowledge and procedural skills among community health cadres in Lok Gabang Village?
Mean Difference: 1.66
Absolute Event Rate: 8.83% vs 7.17%
p-value: p=<0.05
Empowering community health cadres with structured education, guided practice, and digital sphygmomanometers significantly improved their hypertension knowledge and enabled 100% procedural accuracy for independent community blood pressure screening, uncovering high rates of elevated blood pressure among young and pre-elderly adults.
Hipertensi berisiko tinggi menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal, baik pada usia lanjut maupun usia produktif. Di Desa Lok Gabang, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, sekitar 27 dari 242 lansia (11,16%) mengalami hipertensi, sementara kader posyandu Integrasi Layanan Primer setempat belum pernah mendapat pelatihan deteksi dini dan teknik pengukuran tekanan darah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader serta pengetahuan warga tentang hipertensi dan pencegahan komplikasinya. Pelaksanaan berlangsung di Posyandu ILP Lok Gabang melalui dua sesi edukasi dan pelatihan terstruktur, meliputi penyampaian konsep dasar hipertensi serta praktik pengukuran tekanan darah menggunakan modul dan tensimeter digital. Sasaran utama adalah 15 kader posyandu ILP dengan partisipasi aktif 12 kader, sedangkan sesi pemeriksaan kesehatan dibuka bagi warga dewasa dan diikuti 22 orang pada sesi pertama serta 29 orang pada sesi kedua. Evaluasi menggunakan pre-test post-test. Skor rata-rata pengetahuan kader naik dari 7,17 menjadi 8,83 dari 15 soal (bertambah 23,2%), bergeser dari kategori kurang menjadi cukup; 67% kader mengalami peningkatan nilai dan uji Wilcoxon (Z=-2,134; p<0,05). Seluruh 12 kader (100%) juga mampu melakukan keenam langkah pengukuran tekanan darah dengan benar berdasarkan lembar observasi. Kunjungan ke posyandu meningkat 32% antar sesi, dengan 81,8% peserta sesi pertama dan 86,2% peserta sesi kedua memiliki tekanan darah di atas normal, terutama pada kelompok dewasa muda dan pra-lansia. Temuan ini menegaskan pentingnya alat ukur dan praktik langsung agar pelatihan segera diterapkan, sekaligus menunjukkan bahwa penguatan kapasitas kader mendorong pemanfaatan layanan pemeriksaan. Pendampingan berkala oleh puskesmas tetap diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pemantauan tekanan darah di masyarakat.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Fauziah et al. (2026) studied Hypertension (n=12). Structured hypertension education and blood pressure measurement training (using modules, audiovisual media, and digital sphygmomanometers) vs. Pre-training baseline (single-group pre-test/post-test) was evaluated on Cadre knowledge score on hypertension and blood pressure measurement technique (15-item questionnaire, pre-test vs. post-test) (MD 1.66 (Wilcoxon Z = -2.134), p=<0.05).
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: