Students’ mathematical problem-solving ability remains low, indicating the need for learning that provides opportunities to understand problems, develop strategies, solve problems, and explain solutions. This study aimed to describe changes in students’ mathematical problem-solving ability through the Search, Solve, Create, and Share (SSCS) learning model. This study employed a quantitative approach with a descriptive method. The subjects were 32 students of Class IX.1 at SMP Negeri 43 Padang in the 2026/2027 academic year. Learning was conducted over six meetings covering geometric transformations, including translation, reflection, rotation, and dilation. Data were collected through quizzes at each meeting and designed based on four indicators of mathematical problem-solving ability. Data were analyzed descriptively using quiz scores and scores for each indicator. The results showed that the mean quiz score increased from 43.44 in the first meeting to 78.75 in the sixth meeting. All four indicators showed an overall changing trend from the first to the sixth meeting, although the scores fluctuated across meetings. Thus, students’ mathematical problem-solving ability showed a tendency toward changing achievement during learning using the SSCS model. The SSCS model provided opportunities to engage in problem-solving activities involving understanding problems, formulating solutions, solving problems, and interpreting results. Keyword: mathematical problem-solving ability; SSCS; geometric transformation; mathematics learning. Abstrak: Kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik masih berada pada kategori rendah sehingga diperlukan pembelajaran yang memberikan kesempatan peserta didik untuk memahami masalah, menyusun strategi, menyelesaikan masalah dan menjelaskan hasil penyelesaian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecenderungan perubahan capaian kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik melalui model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah 32 peserta didik kelas IX.1 SMP Negeri 43 Padang pada tahun ajaran 2026/2027. Pembelajaran dilaksanakan dalam enam pertemuan materi transformasi geometri mencakup translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi. Data dikumpulkan melalui kuis pada setiap pertemuan yang disusun berdasarkan empat indikator kemampuan pemecahan masalah matematis dan dianalisis secara deskriptif melalui rata-rata nilai kuis serta skor setiap indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai kuis meningkat dari 43,44 pada pertemuan I menjadi 78,75 pada pertemuan VI. Keempat indikator menunjukkan kecenderungan perubahan secara keseluruhan dari pertemuan pertama hingga pertemuan keenam, meskipun capaian berfluktuasi antarpertemuan. Dengan demikian, kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik menunjukkan kecenderungan perubahan capaian selama pembelajaran menggunakan model SSCS pada materi transformasi geometri. Pembelajaran dengan model SSCS memberikan ruang bagi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah melalui kegiatan memahami masalah, merumuskan solusi, menyelesaikan masalah, dan menginterpretasi hasil. Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah matematis; SSCS; transformasi geometri; pembelajaran matematika
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Hilmi et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: