Penelitian ini menganalisis hubungan lingkungan kerja, budaya organisasi, dan kepuasan kerja dengan kinerja tenaga kependidikan Universitas Muhammadiyah Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-verifikatif dengan desain survei potong lintang dan teknik sampling jenuh terhadap 87 tenaga kependidikan tetap. Instrumen terdiri atas 44 pernyataan berskala Likert lima kategori. Data diolah menggunakan IBM SPSS Statistics 25 melalui analisis deskriptif, pengujian instrumen, uji asumsi klasik, dan regresi linier berganda. Uji Glejser menunjukkan indikasi heteroskedastisitas pada kepuasan kerja (p = 0,027), sehingga pengujian hipotesis menggunakan robust standard errors HC3. Hasil menunjukkan bahwa lingkungan kerja (B = -0,053; p = 0,797) dan budaya organisasi (B = -0,092; p = 0,553) tidak memiliki koefisien yang signifikan. Kepuasan kerja berhubungan positif dan signifikan dengan kinerja (B = 0,506; p = 0,021). Uji simultan HC3 tidak signifikan (F(3,83) = 2,149; p = 0,100). Nilai R² sebesar 0,072 dan adjusted R² sebesar 0,039 menunjukkan kemampuan penjelasan model yang terbatas. Temuan tersebut menempatkan kepuasan kerja sebagai prediktor parsial yang paling menonjol, sekaligus mendorong kajian lanjutan mengenai faktor kinerja lainnya.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Rohim et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: