Answers are grounded in this paper and cite their sources.
Penelitian ini mengkaji strategi kesantunan dalam komentar media sosial Instagram dengan membandingkan pengguna bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berdasarkan teori Maksim Kesantunan Geoffrey Leech. Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya fenomena pelanggaran kesantunan berbahasa di ruang digital, khususnya dalam kolom komentar Instagram yang kerap memicu ujaran ofensif dan konflik verbal lintas budaya. Meskipun sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pelanggaran maksim pada satu komunitas bahasa, belum ada kajian yang secara komparatif membandingkan pola pelanggaran antara pengguna bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi jenis pelanggaran maksim kesantunan pada komentar Instagram berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris; (2) menentukan maksim yang paling sering dilanggar pada masing-masing kelompok; serta (3) merumuskan strategi kesantunan yang kontekstual bagi kedua kelompok pengguna bahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi komparatif. Data berupa 20 komentar Instagram, terdiri atas 10 komentar berbahasa Indonesia dan 10 komentar berbahasa Inggris, yang diperoleh dari akun figur publik dengan interaksi komentar intensif melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada April–Mei 2026 dengan teknik simak dan catat. Analisis dilakukan melalui tahap reduksi data, kategorisasi berdasarkan teori Leech (1983; 2014), analisis kontekstual, dan penarikan kesimpulan komparatif. Untuk memastikan konsistensi kategorisasi, ditetapkan indikator operasional yang konkret bagi setiap maksim yang dianalisis, termasuk prosedur penanganan komentar yang berpotensi memenuhi lebih dari satu kategori pelanggaran. Perlu dicatat pula bahwa unit perbandingan dalam penelitian ini adalah bahasa komentar, bukan identitas demografis komentator, mengingat identitas budaya pengguna Instagram tidak selalu dapat diverifikasi secara pasti melalui data digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Maksim Pujian (Approbation Maxim) merupakan maksim yang paling dominan dilanggar pada kedua kelompok bahasa. Pengguna bahasa Indonesia cenderung melakukan penghinaan personal, sindiran, body shaming, dan penyerangan moralitas, sedangkan pengguna bahasa Inggris lebih banyak mengarahkan pelanggaran pada karya, budaya, dan ekspresi superioritas diri. Pelanggaran Maksim Kerendahan Hati hanya ditemukan pada komentar berbahasa Inggris, sementara pelanggaran Maksim Pertimbangan lebih dominan pada komentar berbahasa Indonesia. Temuan ini menunjukkan bahwa latar belakang budaya memengaruhi pola ketidaksantunan dalam komunikasi digital dan memperkaya literatur cyberpragmatics.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Tambunan et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: