This is the authors' abstract. We don't add key points for this paper.
Latar Belakang : Paru-paru merupakan organ vital dalam sistem pernapasan yang berfungsi melakukan pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Gangguan pada paru dapat menyebabkan gangguan fungsi pernapasan dengan gejala seperti sesak napas, batuk, produksi dahak, dan wheezing. Salah satu komplikasi serius penyakit paru adalah acute lung oedema, yaitu kondisi kegawatdaruratan akibat penumpukan cairan di alveolus dan interstisial paru yang menyebabkan gangguan pertukaran gas dan hipoksia. Acute lung oedema memiliki angka kejadian sekitar 14 per 100.000 penduduk per tahun di Indonesia dengan angka mortalitas yang tinggi apabila tidak ditangani secara tepat. Penatalaksanaan pasien memerlukan pemberian oksigenasi adekuat dan pada kondisi berat dapat membutuhkan ventilasi mekanik di ruang intensif. Selain terapi farmakologis, intervensi nonfarmakologis seperti posisi orthopneic dapat membantu meningkatkan oksigenasi. Posisi orthopneic memanfaatkan gaya gravitasi yang dapat menarik organ abdomen ke bawah sehingga tekanan pada diafragma berkurang. Kondisi ini memungkinkan diafragma bergerak lebih bebas, meningkatkan volume rongga toraks dan ekspansi paru. Ekspansi paru yang optimal memperbaiki ventilasi alveolus dan pertukaran gas, sehingga oksigenasi meningkat. Skenario Kasus : Studi kasus dipilih 1 orang sebagai subyek studi kasus yaitu pasien yang menjalani perawatan di Ruang ICU dan mengalami penurunan saturasi oksigen. Pasien bernama Ny.A usia 64 tahun berjenis kelamin perempuan, sudah menikah, beragama islam. Riwayat Kesehatan sekarang pasien mengatakan sesak napas dan hasil observasi terdapat penurunan saturasi oksigen. Pembahasan : Pemberian posisi orthopneic dilakukan selama 15 menit sebanyak 2 sesi dan diamati saturasi oksigennya, ini bertujuan untuk menurunkan aliran balik vena dan tekanan hidrostatik kapiler paru sehingga mengurangi bendungan dan edema paru. Kesimpulan : Hasil studi kasus pre-post dalam waktu 15 menit sebanyak 2 sesi selama 3 hari terdapat perubahan yang signifikan setelah dilakukan pemberian posisi orthopneic oksigenasi terpenuhi dibuktikan dengan sautrasi oksigen yang meningkat dari 93% (hipoksia ringan) menjadi 98% (baik).
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Rahayu et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: