Answers are grounded in this paper and cite their sources.
Keterampilan berpikir komputasional dan literasi teknologi adalah kompetensi esensial abad ke-21, tetapi sekolah di daerah tertinggal sering terkendala infrastruktur. Pengabdian ini bertujuan membangun generasi kreatif dan inovatif melalui pelatihan robotika sederhana dan coding di SD Negeri Kropak, Rongkop, Gunung Kidul daerah dengan IPM rendah (64,3 vs DIY 80,5), daya listrik 900 watt, dan tanpa internet fungsional. Metode menggunakan pembelajaran berbasis proyek yang adaptif, meliputi pelatihan guru (training of trainers), sesi unplugged untuk pengenalan algoritma, perakitan robot line follower, dan pemrograman blok dengan perangkat lunak offline. Kegiatan melibatkan 51 siswa kelas IV–VI dan 7 guru. Evaluasi pretest-posttest menunjukkan kemampuan berpikir komputasional meningkat dari 18,2% menjadi 82,4% (kenaikan 64,2 poin persentase). Seluruh kelompok (10/10) berhasil merakit robot sederhana, 88% siswa mampu menyusun program blok, keterlibatan aktif siswa 94%, dan 100% guru menyatakan puas serta siap melanjutkan program mandiri. Dampak kegiatan terlihat dari terbentuknya klub robotika sebagai ekstrakurikuler tetap dengan partisipasi 69% siswa pada monitoring bulan ketiga. Pelatihan robotika dan coding dengan pendekatan adaptif terhadap keterbatasan infrastruktur efektif meningkatkan kemampuan berpikir komputasional dan kreativitas siswa sekolah dasar di daerah tertinggal, serta berpotensi direplikasi sebagai model pembelajaran STEM berbasis low-tech, high-impact.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Siswoyo et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: