Community empowerment through literacy development should be grounded in local needs and potential. Menyali Village, Sawan District, Buleleng Regency, has potential in education, the creative economy, and cultural arts, but faces challenges related to language, digital, and economic literacy, as well as youth participation in cultural preservation. This community service program aimed to describe the implementation of the RAMA SINTA Literacy Corner (Ranggon Malajah Sastra, Informatika, Transformasi Ekonomi, dan Seni Budaya), comprising four programs: RAMA Dwi Sastra, RAMA Cakra Digital, RAMA Artha, and RAMA Taksu. The activities were conducted in Menyali Village from June 4 to October 19, 2026, through 12 sessions for each program, involving 80 participants. The implementation stages included needs identification, socialization, training, practical activities, mentoring, observation, reflection, and sustainability planning. Evaluation data were obtained through pre-tests, a mid-test in the ninth session, a post-test in the twelfth session, skills observations, product and performance assessments, and documentation. The results showed increases in average scores across all programs: RAMA Dwi Sastra increased from 72.85% to 94.70%, RAMA Cakra Digital from 78.00% to 96.25%, RAMA Artha from 77.15% to 94.75%, and RAMA Taksu from 77.70% to 93.10%. The largest increase was recorded by RAMA Dwi Sastra, at 21.85 percentage points, while RAMA Cakra Digital achieved the highest post-test score, at 96.25%. These findings indicate improved participant achievement following the training and mentoring activities. The program also contributed to student capacity development and the preparation of community facilitators to support its sustainability. ABSTRAK Pemberdayaan masyarakat melalui penguatan literasi perlu dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan potensi lokal. Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, memiliki potensi di bidang pendidikan, ekonomi kreatif, dan seni budaya, tetapi masih menghadapi keterbatasan literasi bahasa, digital, dan ekonomi serta keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan Pojok Literasi RAMA SINTA (Ranggon Malajah Sastra, Informatika, Transformasi Ekonomi, dan Seni Budaya), yang mencakup RAMA Dwi Sastra, RAMA Cakra Digital, RAMA Artha, dan RAMA Taksu. Kegiatan dilaksanakan pada 4 Juni–19 Oktober 2026 melalui 12 pertemuan pada setiap program dengan melibatkan 80 peserta. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi kebutuhan, sosialisasi, pelatihan, praktik, pendampingan, observasi, refleksi, dan penguatan keberlanjutan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, mid-test pada pertemuan kesembilan, post-test pada pertemuan kedua belas, observasi keterampilan, penilaian produk dan unjuk kerja, serta dokumentasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pada seluruh program, yaitu RAMA Dwi Sastra dari 72,85% menjadi 94,70%, RAMA Cakra Digital dari 78,00% menjadi 96,25%, RAMA Artha dari 77,15% menjadi 94,75%, dan RAMA Taksu dari 77,70% menjadi 93,10%. Peningkatan tertinggi terdapat pada RAMA Dwi Sastra, sebesar 21,85 poin, sedangkan nilai post-test tertinggi dicapai RAMA Cakra Digital, sebesar 96,25%. Temuan ini menunjukkan peningkatan capaian peserta setelah mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan. Selain itu, kegiatan ini mendukung penguatan kapasitas mahasiswa dan penyiapan kader masyarakat untuk menjaga keberlanjutan program.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Utami et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: