Kinerja perawat menentukan mutu pelayanan rumah sakit, tetapi capaian kinerja perawat Rumah Sakit Umum (RSU) Natama Kota Tebing Tinggi tahun 2025 baru mencapai 82,2% dari target 100%. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh kompetensi kerja, motivasi kerja, dan beban kerja terhadap kinerja perawat, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian dilaksanakan pada Juni–September 2026 dengan pendekatan kuantitatif asosiatif dan sampel jenuh sebanyak 33 perawat. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert 1–4, studi pustaka, dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan IBM SPSS Statistics 26 setelah instrumen dan model memenuhi uji validitas, reliabilitas, dan asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi kerja (koefisien 1,059; Sig. 0,000) dan motivasi kerja (koefisien 0,541; Sig. 0,001) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perawat, sedangkan beban kerja berpengaruh negatif dan signifikan (koefisien −0,785; Sig. 0,000). Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh signifikan (F hitung 19,716; Sig. 0,000) dengan R Square 0,671, sehingga menjelaskan 67,1% variasi kinerja perawat, dengan kompetensi kerja sebagai variabel berpengaruh relatif paling kuat. Pembahasan yang dikaitkan dengan wawancara HRD, data absensi, tingkat hunian tempat tidur, dan penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang sejalan. Simpulannya, kinerja perawat dipengaruhi oleh kompetensi, motivasi, dan beban kerja secara terpadu. Rumah sakit disarankan memperkuat pelatihan kompetensi, sistem penghargaan, dan evaluasi beban kerja pada setiap unit dan shift.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Sabilillah et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: